Artikel

Tetaplah Bangga dengan Cadarmu, Mbak!

Bagi Anda yang nyinyir sama foto mbak bercadar itu, hambok biarkan saja ia menyantap nasi Padangnya sampai tuntas. Dan buat kamu, mbak-bercadar-tanpa-nama, tetaplah bangga dengan cadarmu. Jika kelak kita bersua, bolehlah kita mencoba ta’aruf-an.

Seminggu kemarin, beranda Facebook saya ramai dengan persebaran foto seorang perempuan bercadar yang tengah makan di tempat umum. Sebagian besar netizen berkomentar, baik secara sinis atau tidak, betapa ribetnya makan dengan menggunakan cadar yang hanya menyisakan dua bola mata itu. Bahkan ada pula yang urun pendapat lewat landasan fiqih; menurutnya, apa yang dilakukan mbak tadi adalah bentuk ghuluw, sesuatu yang melampaui batas.

Saya pun mulanya juga berpikiran sama: Kok mau-maunya si mbak repot begitu? Tapi kemudian saya berpikir lagi: pakai hotpants dianggap lebih hina dari paha ayam KFC, sementara ditutupi begitu ya masih juga dinyinyiri. Sedih rasanya jadi perempuan di negeri ini.

Barangkali kesedihan saya satu level dengan kesedihan Rangga ketika mengetahui Cinta sudah menikah dengan seorang pengusaha muda kaya raya dan kini memiliki dua orang anak.

 

Picture1

 

Saya jadi ingat salah satu cerita perjuangan dari seorang kyai mbeling asal Jombang yang kini menetap di Jogja. Namanya Emha Ainun Nadjib atau yang biasa diakrab Cak Nun. 

Dalam sebuah forum diskusi di media 90-an, Cak Nun menceritakan bagaimana dulu ia dan kawan-kawannya terlibat aktif memperjuangan hak para pekerja toko yang dilarang juragannya mengenakan jilbab.

Kala itu, jilbab tidaklah sepopuler sekarang yang kini lebih mirip industri ketimbang simbol keimanan diri. Dan tak ada pula komunitas hijabers yang giat melakukan sosialisasi tutorial hijab trendi.

Perjuangan Cak Nun dimulai melalui pagelaran teater “Lautan Jilbab” di beberapa tempat, lalu kemudian disertai perjuangan secara legal-formal. Alhamdulillah, semua itu menghasilkan efek positif. Mbak-mbak yang kebanyakan bekerja di berbagai gerai pertokoan di Jogja itu akhirnya mendapatkan hak mereka untuk berjilbab.

Cak Nun menjelaskan, apa yang ia lakukan tersebut tidak semata karena ia seorang muslim dan ingin melihat para perempuan Islam beragama secara kaffah. Alasannya sederhana saja: Cak Nun menganggap perempuan semestinya bebas menentukan apa yang ingin dia kenakan di tubuhnya.

Maka ketika terjadi pelarangan pemakaian jilbab, secara moral Cak Nun merasa wajib memperjuangkan hak para perempuan yang terkena larangan tersebut agar dapat mengenakan jilbabnya. Beliau juga sempat berkelakar:

“Jangankan ingin memakai jilbab, kalau dari mereka ada yang tak ingin mengenakan pakaian sama sekali tapi ada yang melarangnya, pasti saya akan perjuangkan juga. Sayangnya sampai sekarang belum ada,” ujarnya kala itu, disambut gelak tawa hadirin sekalian yang kebanyakan adalah pemuda-pemuda selo seperti saya ini.

Kisah Cak Nun tersebut kemudian membekas dalam hidup saya. Saya menganggapnya sebagai sebagai salah satu pedoman tentang kebebasan berpakaian.

Jika seorang laki-laki berhak memilih untuk menggunakan celana pensil yang ada bolongnya di dengkul atau celana bahan gombrang dan cingkrang, mestinya adalah sah bagi perempuan untuk mengenakan kaos ketat yang tiap njengking memperlihatkan “celengan semar”-nya, memakai jilbab panjang, atau cadar sekalipun. Bahkan, seperti yang disebut Cak Nun tadi: bugil pun tak apa.

Saya pun takzim ketika melihat foto dua mbak-mbak bercadar mengapit seorang perempuan bertato dalam festival Hammersonic beberapa minggu lalu.

Mereka, kedua mbak tadi, santai saja ikut berjingkrakan menonton band-band metal kesukaan tanpa merasa harus menyembunyikan status mereka sebagai muslimah berhijab. Mereka juga mempersetankan omongan sinis yang kurang lebih berbunyi: “Sudah berhijab kok mendengar musik setan!”

Tanpa bermaksud seksis, bukankah lebih baik mereka tetap mengenakan hijab ketimbang memaksakan diri memakai tanktop dan hotpants hanya untuk mendapatkan rasa “aman” dalam lingkaran habitus yang secara simbolis berbeda dengan mereka?

Lalu untuk foto mbak bercadar yang tengah makan nasi Padang itu, saya juga merasa kagum. Coba ngana bayangkan, betapa tak nikmatnya makan nasi Padang pakai masker? Terlebih ketika lauknya kebetulan adalah daging rendang yang cukup alot. Sudahlah menyuapnya susah, menggigitnya pun payah. Tapi si mbak di foto itu tak terlihat mengeluh, malah terlihat lahap. 

Ada perjuangan ideologis dan kemampuan mengolah cita rasa yang luar biasa dalam foto tersebut. Tidak sembarangan orang awam bisa melakukannya. Memangnya Anda bisa ngemut rambutan dengan kepala tertutup helm full face?

Jadi, bagi Anda yang nyinyir sama foto mbak bercadar itu, hambok biarkan saja ia menyantap nasi Padangnya sampai tuntas. Dan buat kamu, mbak-bercadar-tanpa-nama, tetaplah bangga dengan cadarmu. Jika kelak kita bersua, bolehlah kita mencoba ta’aruf-an. 

Kebetulan, saya masih mencari pendamping untuk nyalon jadi Bupati Klaten.

Tetaplah Bangga dengan Cadarmu, Mbak!
Comments
To Top

Send this to friend