yusman roy
Artikel

Belajar dari Dia yang Salat Pakai Bahasa Indonesia

Salat tidak seharusnya hanya menjadi kegiatan formalitas untuk mendulang pahala. Salat harus berdampak pada dimensi sosial. Salat yang sebenarnya tidak dimulai setelah kita ber-takbiratul ihram, melainkan setelah kita selesai mengucap salam.

Melakukan reportase, lalu menulis tentang Yusman Roy, saya seolah dibawa kepada kenangan masa lalu. Ketika membaca koran di depan kamar pesantren, membahas tentang sesat atau tidak sesat, dan berdebat kecil dengan teman sepulang sekolah.

Pada 2005 lalu, Yusman Roy memang membuat geger publik. Dia dilaporkan oleh Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) Kabupaten Malang karena dituduh telah melakukan penistaan agama. Alasannya karena dia salat dengan dua bahasa: Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia.

Isu ini tentu seksi bagi santri di pondok pesantren. Selain menyangkut agama, kasus ini tak pernah diduga sebelumnya. Dalam pembahasan isu-isu keagamaan yang biasa disebut bahsul masail (membahas beberapa masalah), jarang, atau malah mungkin tak pernah ada yang menanyakan hukum salat dua bahasa. 

Oleh karenanya, pesantren saya yang langganan koran Jawa Pos membuat berita ini menjadi yang paling diburu. Sepulang sekolah, sambil tiduran di depan kamar pesantren, kita menikmati berita ini, berita yang waktu itu kebetulan dimuat secara serial oleh Jawa Pos Radar Malang.

Ketika baru-baru ini kasus Ahok tentang penistaan agama menyeruak ke publik, ingatan saya secara otomatis terbawa pada Yusman Roy. Berhari-hari saya ingin menemuinya, tapi selalu gagal karena baru sebatas niat. Hingga pada akhirnya, teman layouter sekantor mengatakan kalau rumahnya dekat dengan rumah Yusman Roy.

Pada Selasa (13 Desember 2016), akhirnya saya mengunjungi kediaman Yusman Roy di Desa Kalirejo, Lawang, Kabupaten Malang. Rumahnya yang berdiri di lahan seluas hampir dua kali lapangan futsal, juga digunakan sebagai pondok. Namanya Pondok I’tikaf Ngaji Lelaku.

Baru masuk sekitar dua meter dari gerbang pondok, sudah ada tulisan yang cukup membetot perhatian: “Sholat Kami Memakai bahasa Indonesia”. Rupanya, Yusman Roy yang keluar dari penjara November 2006 tetap melakukan dengan bahasa Indonesia. Awalnya, saya mengira kalau Yusman tidak mau diwawancarai. Tapi ternyata dia bersedia.

Saya awalnya bertanya, apakah dia tidak takut terlilit kasus ketika dia diberitakan tetap salat pakai Bahasa Indonesia. Dalam wawancara, berulang kali saya bertanya apakah pernyataannya dapat dikutip dalam berita. Yusman Roy menjawab, tidak masalah. Dalam kasus-kasus tertentu, aneka pertanyaan ini memang perlu diutarakan agar narasumber tidak merasa dijebak oleh pertanyaan-pertanyaan pancingan kita.

Yusman mau blak-blakan karena dia berkeyakinan kalau salat pakai bahasa Indonesia tidak menistakan agama. Rujukannya adalah putusan pengadilan pada 2005 lalu. Dalam putusannya yang dia ditunjukan kepada saya, dijelaskan bahwa Yusman Roy tidak terbukti melakukan penodaan agama. Dakwaan primernya yakni pasal 156 A KUHP tentang penodaan agama, tidak terbukti. Dia divonis dua tahun karena terbukti bersalah dalam dakwaan sekunder 157 KUHP tentang menyebar selebaran gelap yang menimbulkan keresahan di masyarakat.

“Setelah saya bebas, saya bertemu dengan hakim yang menyidangkan kasus saya,” katanya.”Hakim itu menyalami saya, meminta maaf karena sebenarnya saya tidak bersalah, terpaksa saya divonis dua tahun karena itu kasus pesanan,” imbuhnya.

Pernyataannya tentang ini tidak saya muat dalam berita yang terbit pada 14 Desember 2016, alasannya karena saya tidak mendapatkan konfirmasi. Hakim yang dia maksud pun sudah meninggal dunia. Orang yang dituding memesan kasus itu juga tidak jelas siapa. Atas dasar itu, data ini saya simpan dalam laporan jurnalistik.

Yusman mengatakan, dirinya saat ini salat tidak lagi pakai dua bahasa, melainkan hanya bahasa Indonesia saja. Praktiknya sebenarnya amat sederhana, yakni membaca terjemahan dari aneka macam bacaan yang ada di dalam salat. Semisal, Bismillahirrohmannirrohim. Yang cukup dibaca artinya: Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Setelah membuka berkas putusannya, Yusman lalu membuka Alquran terjemahan. Dia berargumen kalau di dalam Alquran ada yang mengatakan bahwa sebenarnya diperbolehkan salat pakai bahasa Indonesia.

Sebenarnya bukan hanya bahasa Indonesia, tapi juga bahasa lain yang kita mengerti. Terjemahan dari salah satu ayat di surat Thaha tersebut seperti ini: Telah Kami Mudahkan (Alquran) itu dengan bahasamu (Muhammad), agar dengan itu engkau dapat memberi kabar gembira kepada orang-orang bertakwa.

Surat ini menurut Yusman menunjukan kalau Alquran diturunkan berbahasa arab karena Nabi Muhammad saw. tinggal di Negeri Arab. Dengan demikian, agar bacaan salat lebih dimengerti dan dihayati, maka bisa diganti dengan bahasa lain. Tak perlu selalu bahasa arab.

Yusman Roy juga menunjukan kepada saya ayat lain yang memperkuat keyakinannya.

Yusman Roy semakin yakin bahwa salat boleh menggunakan bahasa Indonesia ketika dia berhaji pada tahun 2001 lalu. Ketika itu, dia meminta petunjuk kepada Allah atas kegelisahannya perihal salat pakai bahasa Indonesia.

Lalu, di dalam hati, dia berujar bahwa Tuhan mengizinkan dirinya salat pakai bahasa Indonesia, dia meminta dipulangkan lebih tepat dari tanah suci. Dia lalu mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk pulang lebih cepat. “Disetujui, saya yang awalnya kloter 52, dipulangkan dengan kloter 36,” katanya.

Setelah itu, dia semakin yakin kalau salat berbahasa indonesia itu diperbolehkan.

Menurut Yusman Roy, saat ini sudah tidak substansial lagi memperdebatkan salat pakai bahasa apa. Yang jauh lebih penting menurutnya adalah orang yang salat harus semakin baik akhlaknya. Ini sebagaimana firman Tuhan bahwa tujuan salat adalah untuk mencegah kekejian dan kemungkaran.

Nah, Yusman Roy ternyata merasa akhlaknya lebih bagus ketika salat pakai Bahasa Indonesia.

Dari Yusman Roy, mungkin kita akan sulit belajar tentang hukum halal-haram di dalam Islam, karena dia tidak pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Dulu dia adalah seorang petinju dan dekat dengan dunia kriminal. Lalu dia bertaubat. Hingga kini, bekas ‘dunia’ tinju dan kriminalitas itu masih tersisa, yakni berupa tato di kedua tangannya. Tapi, dari Yusman Roy, kita bisa belajar bagaimana bersikap Islami. Sikap akhlak yang selalu membaik setelah salat.

Singkatnya, salat tidak seharusnya hanya menjadi kegiatan formal untuk mendulang pahala. Salat harus berdampak pada dimensi sosial. Hakikat salat yang sesungguhnya tidak dimulai setelah kita ber-takbiratul ihram, melainkan setelah kita mengucap salam.

Yusman Roy, sepanjang saya wawancara memang mencerminkan akhlak yang baik. Dia care pada orang lain, selalu tersenyum, dan ketika liputan saya dimuat keesokan harinya, dia tak lupa mengucapkan terima kasih melalui pesan singkat.

Menurut teman saya yang bertetangga dengan Yusman Roy, dia memang dikenal sebagai orang baik dan ramah kepada masyarakat.

Yusman Roy, sebagaimana yang dia sebut, merasa akhlaknya lebih baik setelah salat pakai Bahasa Indonesia. “Dulu saat muda saya hidup di zaman jahiliyah, mabuk-mabukan, judi, dan lain-lain,” katanya.

Dalam tulisan ini tentu saya tidak hendak membenarkan dan menyalahkan Yusman Roy yang salat pakai bahasa Indonesia. Saya kira, untuk persoalan itu, sudah ada lembaga yang lebih otoritatif memberi fatwa. Tapi, entah Yusman Roy benar atau salah dalam menjalankan salat, kepadanya kita bisa belajar, bahwa salat seharusnya memang membaikkan akhlak.

Komentar
To Top

Send this to friend