Artikel

Buku-Buku di 2016 yang Menyenangkan Hati

Di antaranya: buku dua penulis sepak bola terbaik Indonesia.

Sebelum membuat daftar agak panjang ini, saya ingin menegaskan di awal, saya bukanlah seorang juri Indonesia Mencari Penulis/Buku Berbakat. Di dunia buku yang mengenaskan ini, hal mewah begini tak mungkin dijumpai. Biarlah para pekerja buku menerima kutukannya untuk selalu mengeluhkan mahalnya kertas, tunggakan ongkos cetak, dan penjualan yang biasa-biasa saja. Santai … mereka sudah cukup bahagia dengan dunianya. Mereka bisa menghibur diri dengan cara berkumpul dan tertawa, sambil sesekali menikmati hidangan “bangkai saudara” yang lezat tiada tara.

Posisi saya kali ini adalah pembaca, sedikit peran sebagai penjual buku tentu saja. Kali ini saya tidak membuat susunan buku terbaik dan daftar ini juga tidak perlu dibuat berurutan. Penilaian ini tidak berimbas sama sekali pada turun naiknya omzet para penjual buku. Penilaian saya bahkan melebar pada penerbit, penulis, sampul buku, dan peristiwa buku lain di luar isi buku. Dalam menyusun daftar ini, sudah dipastikan saya punya kecenderungan serampangan, sangat subjektif, dan beberapa motif dagang bisa saja masuk. Maka waspadalah! 

Oh, ya. Tadinya tulisan ini sepanjang 3.500 kata lebih. Hajilak! Karena ditulis buat Mojok, terpaksa saya pangkas habis-habisa. Dasar media Jahanam! Ngatur-ngatur penulis. Untung ada honornya. 😀

Buku Bola: Simulakra Sepakbola dan Tamasya Bola

Indonesia boleh kalah terus, para pemain boleh mengeluh tidak digaji, dan politik dalam tubuh sepak bola boleh memanas. Tapi, justru itulah yang penting. Makin kacau bola kita, makin ramai para penulis bekerja! Jika penonton tenang-tenang belaka, menunggu gol, tidak berkelahi, tidak ada sogok menyogok dan korupsi, mau nulis apa para penulis bola ini? Mau makan apa mereka?

Pada April 2016, sebuah buku tentang sepak bola meluncur: Tamasya Bola oleh Darmanto Simaepa. Disusul Simulakra Sepakbola oleh Zen RS dua bulan berikutnya. 

Darmanto Simaepa dan Zen RS menunjukkan kelihaiannya mengamati segala hal dan mengaitkannya dengan bola. Darmanto mengemas bukunya menjadi bacaan yang asyik-cum-menyenangkan. Mengajak bertamasya lewat beberapa pengalaman pribadi. Misalnya, bagaimana rasanya bermain bola dengan sepatu bot atau menulis sebuah perbandingan yang keren. Darmanto berusaha mencari beberapa kesamaan antara Blatter dengan Sri Sultan Hamengku Bawono 10. Ia menggambarkan bagimana feodalisme bertransformasi menjadi industri dan permainan kapital yang tiada hentinya.

Darmanto, dalam buku ini, sebagaimana juga Zen, sama-sama menulis bola bukan diperuntukkan hanya bagi para pencinta sepak bola. Dalam kedua buku ini, segala hal bisa dibicarakan dan, kok ya, bisa mereka jahit bersama serta menjadi bagian tidak terpisahkan dari sepak bola? 

Zen RS adalah sosok penulis bola yang bukan hanya pintar ngebut mengejar peristiwa menjadi tulisan, tapi juga jenius. Entah latihan apa yang dilakukan alumnus UKM Polo Air Jurnalistik ini, ia seolah bisa menulis sambil menyelam menangkap ikan. Tulisannya adalah serangan barbar seorang pemain yang menggasak sana-sini lawannya, membikin gol dalam beberapa paragraf, menjadi tokoh yang sedang bermain atraksi di lapangan. Zen berlari maju mundur, melompat dari cerita bola menuju kisah masa kecilnya, lompat lagi ke buku-buku yang ia baca, salto ke mesin traktor.

Selain seolah jadi pemain, kedua penulis ini sekaligus merangkap pelatih yang kesal, memaki, sekaligus jadi komentator cerewet ngomong ini-itu.

Buku Sejarah: Sejarah Estetika, Sejarah Pemikiran Politik, dan Ganefo

Martin Suryajaya mungkin salah satu penulis yang paling produktif dan paling bikin iri penulis lain pada 2016. Di tahun jahanam itu, ia menerbitkan 1.515 halaman tulisan yang ia rangkum dalam tiga buku, semuanya terbit di bulan kemerdekaan Republik Indonesia: Sejarah Pemikiran Politik Klasik: Dari Prasejarah Hingga Abad ke-4 M (363 halaman), Sejarah Estetika (936 halaman), dan novel Kiat Sukses Hancur Lebur (216 halaman). Ajegileee, ni bocah sejak bayi makan bubur kertas dan minum tinta printer kali ya?!

 Menulis teratur dan runtut tertata di Sejarah Politik dan Sejarah Estetika, Martin menerobos masuk dengan cara bajingan yang sedang mabuk ciu dan jamur tahi sapi dalam novelnya. Pada dua buku sebelumnya, ia berhasil menunjukkan dirinya sebagai anak tekun yang taat belajar dan pintar mempresentasikan hasil belajarnya. Terutama dalam Sejarah Estetika yang tebal, yang bisa dipakai untuk nimpuk lawan bicara yang mengantuk.

Tapi, kemudian tulisannya hancur berantakan dalam novel. Di Kiat Sukses, penulis mabuk masuk dan menghancurkan apa saja. Tokohnya tidak jelas, karakternya aneh, tidak ada plot, narasi ke sana kemari, ada gambar penis, ada pengumuman dan tips kekacauan di dalamnya. Kacau! Novel ini memutarbalikkan persepsi kita atas novel yang kita baca sebelumnya.

Martin mungkin adalah manusia ber-DNA amuba yang pintar membelah diri. 

Lalu Ganefo. Astaga, makanan apa ini? Muhidin M. Dahlan, seperti biasa, sebagaimana nama aliasnya di Facebook, Juru Kliping, memang manusia spesial penambang, penggali kerak data. Bahkan data sejarah atau kisah yang kita sempat anggap tidak perlu diingat lagi. 

Ganefo atau Games of the New Emerging Forces menjadi bukti bahwa negeri-negeri bekas jajahan bisa menyelenggarakan sebuah pergelaran olahraga skala raksasa. Ajang ini bukan semata permainan kapital layaknya Olimpiade atau FIFA, di mana kita dipaksa gembira, membeli jersey untuk menunjukkan partisipasi kita sebagai pecinta olahraga. Ganefo dibangun atas dasar partisipasi yang bersandar pada kesetiakawanan politik antarbangsa. Sukarno sebagai tokoh sentral, CEO pelaksanaan hajatan ini berhasil mengharumkan nama bangsa, jauh lebih harum dan terhormat dari asap vapor yang bikin uhuk-uhuk itu.

Muhidin bisa menemukan apa yang ia sukai lalu memutuskan kerja panjang sebelum menulis. Lengkapnya data membuat buku ini bisa jadi kamus sekaligus ensiklopedia, liputan langsung dari gelanggang, hingga respons dan apresiasi/wacana di media saat itu. Yang utama, buku dengan tema begini tidak pernah digarap orang selain Muhidin. Data dan peristiwa ini tidak pernah dibahas Kementerian Pemuda dan Olahraga sebagai sesuatu capaian yang kalau diulang—misalnya masuk program Nawacitrong—pasti bisa mengagetkan dunia.

Buku Indie: Penerbit Kakatua

Puluhan penerbit kecil bermekaran di Jogja, sang Ibu Kota Buku. Warung Arsip, Oak, Metabook, Circa, Octopus, Ganding, Gambang, EA Books, Kendi, Interlude, Alpha Centauri, dan deretan penerbit lain bisa kita absen satu per satu sampai penuh subnarasi ini. 

Mereka bergerak bergerombol sekaligus bekerja sendiri. Mirip gerilya pasukan Gowa atau pasukan Perang Padri. Mengepung dari segala penjuru, lalu perlahan-lahan menguasai titik-titik strategis dari hutan luas rimba raya perbukuan. 

Di belahan kota lain, Marjin Kiri, Komunitas Bambu, Banana, Kata Bergerak, dan yang paling baru, Post Press, terus bekerja menghasilkan buku terbaik mereka. Ultimus, Kentja, Katarsis, dan gerombolan Bandung lainnya membuat buku dan menghelat acara yang tak kalah meriahnya. 

Tapi, kali ini saya tidak memilih mereka. Kali ini saya ingin memilih penerbit Kakatua.

Karya yang dihasilkan penerbit ini baru tiga buku, empat jika menghitung buku paling awal, tulisan pemilik penerbitnya sendiri, Gita Karisma. Kumpulan Fabel Aesop, Rumah Delima Oscar Wilde, Bilik Musik James Joyce. Secara isi, karya ini sudah tidak perlu diobrolkan.

Menerbitkan buku terjemahan sebenarnya tidak begitu menantang, naskah sudah bagus, penulis sudah terkenal, penerbit hanya perlu penerjemahan yang bagus. Itu saja. Kakatua sebagaimana penerbit buku terjemahan lainnya, memilih jalan aman, menerjemahkan karya klasik dunia yang sudah terbukti berumur panjang. Tapi, bedanya, Kakatua berhasil memberi sentuhan pada setiap bukunya. Ia menonjol dalam segi tampilan. Jika bukunya dijejer, oooh, buku-bukunya seperti anak kembar layaknya buku-buku King Penguin. Kudu dibeli semua. 

Terlalu banyak buku indie dan terjemahan bagus 2016. Kakatua mewakilinya dengan proporsional: isi yang bagus, desain yang ciamik tiada tanding.

Buku Sastra Paling Banyak Diperbincangkan: Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

Astaga, kalau ada yang bilang di 2016 ada novel baru lain yang lebih mengesankan daripada novel ini, lebih baik kita kelahi saja! Saya bisa pakai jurus-jurus Watu Gunung buat membetot, mengikat, dan membawamu naik kapal untuk saya buang di tengah samudera. Biar jadi makanan paus bareng Nabi Yunus dan pembuat patung Pinokio. Saya bisa meludahi mukamu sambil memaki ala Sungu Lembu.

Buku ini menghadirkan sebuah lanskap dongeng yang panjang. Ia meramu puluhan kisah dan memasukkan sekenanya tapi sekaligus rapi dan terukur. Buku ini mengajak menangis sambil tertawa dan memaki bergantian. 

Yusi Avianto Pareanom sudah lama memeram naskahnya. Ia menjadi the right man in the right time and the right place. Ia terbitkan sendiri bukunya di penerbit Banana yang ia miliki, lepas dari sensor dan kepentingan lainnya, sekaligus jadi pembuktian: buku bagus tak selamanya butuh toko buku. Novel ini berkilau tanpa perlu digosok lagi di rak buku best killer seller.

Puisi: Pendidikan Jasmani dan Kesunyian

Playon karya F. Aziz Manna menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa, prediksi saya tidak meleset. Puisi Aziz yang saya baca sebelumnya adalah puisi-puisi liris-naratif panjang dan mengesankan, menyayat dan menikam, apalagi dalam beberapa puisi tentang Lumpur Lapindo

Sergius Mencari Bacchus milik Norman Erickson juga merupakan puisi segar nan unik sebagaimana cerpen yang ia tulis. Sedangkan Tidak Ada New York Hari Ini bisa disebut sebagai karya puisi yang paling riuh sambutannya. Ekspektasi pada AADC2 mungkin berlebihan. Kita menuntut film ini menghadirkan puisi romantis di sana-sini seperti seri sebelumnya. Harapan ini tampaknya membebani Rangga yang diwakilkan pada Aan Mansyur.

Pendidikan Jasmani dan Kesunyian oleh Beni Satryo, harusnya buku ini tidak masuk genre puisi, sebab buku ini adalah buku “pwissie”. Bajingan! Penulisnya sableng. 

Beni sableng ini khas karena bisa mengeksplorasi hal-hal sepele—nota pembelian atau air kobokan bersama daun kemanginya—menjadi pwissie yang unik dan lucu. Beni mengeksploitasi kenelangsaan hidup pemuda yang ia wakili dengan menulis pwissie-pwissie yang membuat kita ngempet ketawa sekaligus miris menahan haru. Begitu banyak puisi terbit 2016, saya mendata lebih dari 15 buku puisi. Tapi, ya, pilihan saya jatuh pada Beni Satryo a.k.a. Bensat, si penulis pwissie.

Bensat sukses menjadi peramu yang cerdik untuk puisi-puisi para pendahulunya—Jokpin, Sapardi, Sutardji, Remy Silado. Dan olahannya begitu segar, seperti daun kemangi yang konon membuat segar napas dan kuat lama di malam pertama.

Buku-Buku di 2016 yang Menyenangkan Hati
Comments
To Top

Send this to friend