ilustrasi Nggak Semua yang Jualan Makanan Mahal Layak Dikatain: Ah Gini Doang mah Mending Bikin Sendiri bittersweet by najla mojok.co
ilustrasi Nggak Semua yang Jualan Makanan Mahal Layak Dikatain: Ah Gini Doang mah Mending Bikin Sendiri bittersweet by najla mojok.co

Nggak Semua yang Jualan Makanan Mahal Layak Dikatain: Ah Gini Doang mah Mending Bikin Sendiri

MOJOK.CO – Nggak semua pengusaha kuliner itu punya niat jadi kapitalis penindas rakyat. Jualan makanan mahal lebih sering karena dilema.

Memang banyak pengusaha kuliner yang jualan makanan mahal padahal kelihatannya “gitu doang”. Misalnya saja restoran cepat saji yang jual ayam goreng. Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa lebih baik melipir ke Olive Chicken atau Geprek Bu Rum karena mereka sama-sama jual ayam krispi dan sama-sama gurih, tapi harganya jauh lebih ramah kantong. Bahkan ada juga yang memilih menggoreng ayam sendiri, mulai dari belanja ke pasar dan memilih potongan ayam terbaik, ngulek bumbunya, sampai bergumul dengan adonan tepung demi mendapatkan hasil olahan ayam super kriuk.

Sebagai orang yang pernah merantau dan sampai sekarang tinggal di kota orang, saya amat familier dengan perhitungan harga makanan demi memperoleh nilai paling irit. Apalagi jika tujuan berhemat ini buat ngepasin jatah uang bulanan, wah pokoknya selisih gopek juga dijabanin. Masalahnya kalau kita ngomongin ayam goreng, nasi telor, atau makanan sehari-hari sih sudah biasa. Sekarang semuanya lebih kepada pilihan. Pun itu tergantung selera dan mau atau nggak seseorang bercapek-capek buat masak agar lebih sedikit keluar uang. Semakin banyak uangmu, maka semakin banyak pilihan makananmu dan kreasi memasakmu. Sederhananya begitu.

Berdasarkan logika sederhana inilah, hampir semua orang menganggap bikin makanan sendiri selalu jauh lebih murah daripada beli. Padahal, logika kayak gini nggak bisa dipukul rata juga sih. Memang ada beberapa orang yang jualanan makanan mahal habis di biaya produksi, sebagian lainnya habis di biaya promosi, ada juga yang mahal karena biaya membangun brand image. Ada juga yang sudah jual mahal, nggak enak, brand-nya nggak jelas pula. Meskipun jarang karena bakal jadi nggak laku, tapi jenis yang begini tetap ada kalau dicari.


Ngomongin soal biaya produksi, kalau Anda ingat, beberapa waktu yang lalu masyarakat urban sempat-sempatnya protes buat menurunkan harga dessert box Bittersweet by Najla. Itu loh, makanan manis yang isinya krim dan kue aneka rasa. Rata-rata harga dessert box Bittersweet by Najla emang dibanderol agak mahal, sekitar Rp50-80 ribu per kotak. Padahal kotaknya juga nggak sebesar kotak bekal makan anak SD. Oleh karena dianggap mahal dan banyak banget yang pengin nyicipin (kabarnya sih enak), orang-orang melakukan “demo” di media sosial. Yah, mungkin di saat bersamaan Mbak Najla sebagai pemilik usaha kulinernya ketawa aja. Hebohnya masyarakat yang minta turun harga itu di satu sisi menaikkan nama brand, promosi gratis. Di sisi lain momen protes itu bisa dijadikan ajang pembelaan dari produsen bahwa untuk mencapai rasa yang paripurna, dibutuhkan dana yang nggak sedikit. Istilah Jawa-nya ono rego ono rupo.

Lagian yang protes juga kocak, di mana-mana yang jualan makanan punya hak mutlak menentukan harga dagangannya. Kalau nggak suka tinggal skip, nggak usah beli. Gampang bukan?

Tapi, okelah. Kalau misalkan tuduhan “harga kemahalan” dessert box tersebut perlu diluruskan, sebenarnya penjelasannya simpel. Biaya produksi yang mencakup bahan-bahan premium itu nggak murah. Belum lagi, dalam proses produksi dibutuhkan alat-alat pembuat kue yang juga mahal. Ditambah lagi biaya tenaga, karyawan, dan pendistribusian. Wah, bisa gila sih kalau dihitung beneran.

Sebagai gambaran, saya pernah membuat kurang lebih 15 dessert box berukuran kecil dengan bahan dasar biskuit Oreo, krim keju, dan krim puding cokelat. Biaya buat beli susu cair satu liter, keju Kraft satu bungkus, cokelat batang satu bungkus, maizena, gula, agar-agar, sampai biskuit Oreo dan bahan tambahan lain jika dijumlahkan kurang lebih Rp100 ribu. Kalau saya jual satu box kecilnya Rp10 ribu (padahal habis dalam tiga kali sendokan), saya baru dapat laba Rp50 ribu. Tapi, laba itu perlu dikurangi lagi dengan uang gas, biaya pengemasan, uang listrik buat menyimpannya di kulkas, uang lelah, dan skill memasaknya. Lah anjir, nggak jadi kaya dong. Berdasarkan pengalaman ini saya jadi maklum kalau Bittersweet by Najla itu mahal. 

Nggak semua orang yang jualan makanan mahal memang niat jadi kapitalis dan segera naik haji. Lebih banyak pengusaha kuliner yang dilema antara menaikkan harga biar untung atau menekan biayanya biar orang-orang pada beli. Makanya kalau nemu makanan mahal, kita nggak bisa sembarangan ngatain, “Lah gini doang mah mending bikin sendiri!” Emangnya Anda pikir skill menciptakan rasa makanan yang mantap itu mudah didapatkan dalam sekali percobaan? Mereka juga bolak-balik mencari formula yang paling pas biar ketemu rasa yang paling sempurna keleeeus.

Saran saya sih kalau nemu makanan mahal yang sekiranya nggak masuk akal, mending nggak usah beli. Belilah sesuatu sesuai kemampuan Anda, nggak usah maksa.

BACA JUGA Alasan di Balik Diksi Selebgram Kuliner yang Terkesan Itu-itu Aja saat Review Makanan atau artikel lainnya di POJOKAN.