Seorang Pasien yang 12 Jam Tidur di Samping Jenazah
Seorang Pasien yang 12 Jam Tidur di Samping Jenazah

Seorang Pasien yang 12 Jam Tidur di Samping Jenazah

Di Jogja, rumah sakit kewalahan menerima lonjakan pasien Covid-19. Untuk masuk Instalasi Gawat Darurat pasien harus antre, bahkan dalam kondisi kritis dan butuh penanganan serius di ICU.

Bagi kami teman-temannya, Bima* (29) adalah sosok yang menyenangkan. Baik, bahkan mungkin terlalu baik. Saat didiagnosa terkena Covid-19 pun, ia tidak ingin merepotkan teman-temannya. Sampai saat terakhirnya.

Saya (Dewi, 25)* mengenal Bima sejak kami kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri untuk menempuh studi S-2. Kami satu angkatan. Dia orang Jakarta, menyelesaikan sarjananya Universitas Padjadjaran di Bandung dan mengambil pascasarjana di Yogyakarta.

Bulan-bulan kemarin, saya dan Bima sering berkomunikasi. Baik secara daring maupun tatap muka. Kami biasanya bertemu di coffee shop untuk menuntaskan apa yang kami mulai di Jogja. Menyelesaikan kuliah.


Jumat, 2 Juli 2021

Sekitar pukul 11 siang, melalui direct message Twitter Bima mengabari kalau dirinya tidak enak badan.

Minggu, 4 Juli 2021

Pagi hari, Bima memberikan informasi kalau sakitnya tidak berkurang. Justru menunjukan gejala-gejala seperti Covid-19. 

Saya kemudian berinisiatif untuk melakukan tes swab hari itu juga. Hasilnya negatif. Bima belum bisa swab karena tempat swab di dekat kosnya tutup semua. 

Pukul 15.00, Bima memberi kabar kalau dirinya belum makan. Sore jelang malam, tidak ada kabar dari Bima. Saya saat itu berpikir, kalau sampai pukul 21.00 tetap tidak ada kabar, saya akan datang ke kos Bima dengan membawa makanan. 

Saya akhirnya tetap membawa makanan berupa jus buah naga mix pisang kesukaan dia. Beberapa vitamin, air mineral, dan cemilan.

Dinyatakan positif, kesulitan mencari shelter dan oksigen

Senin, 5 Juli 2021

Bima melakukan tes swab dan dinyatakan positif corona. Saat itu saya dan Bima berpikir, kalau isolasi mandiri (isoman) di kos pasti ditolak. Pilihannya adalah isoman di shelter. Saya dan Bima mulai mencari informasi shelter untuk isoman. Tapi semua penuh. Ada beberapa hotel yang menawarkan tempat isoman, tapi harganya jauh dari kantong mahasiswa kos seperti mereka. Satu malamnya antara 350 sampai 500 ribu. Saya dan Bima pesimis. 

Misalpun ada yang paketan juga jatuhnya masih nggak masuk akal untuk mahasiswa seperti kami. Kami berharap ada yang semalam kisaran 100 ribu, mungkin akan kami pertimbangkan, tapi ternyata nggak ada. Entah nggak ada atau kami nggak nemu.

Setelah mencoba mencari shelter dan tidak menemukan, Bima mencoba ngomong ke induk semang kosnya. Bisa nggak isoman di kos. Ternyata diperbolehkan dengan beberapa syarat. 

Selasa, 6 Juli 2021

Saya terus memantau kondisi Bima dengan berkirim pesan. Saya mulai merasakan nggak enak badan. Kadang demam datang, kadang menghilang. 

Dalam pesannya, Bima mengeluhkan gejala Covid-19 seperti anosmia, pusing, napas sesak tapi ketika itu saturasinya masih aman, serta kehilangan nafsu makan. Saya sempat antar jus lagi dan beberapa makanan ke tempat Bima di Selasa malam.

Rabu, 7 Juli 2021

Pukul 10 malam Bima mengirimkan pesan kalau dia kesulitan bernapas. Saturasi oksigennya di angka 80. Saya dengan beberapa teman, termasuk dosen, mencari informasi IGD di berbagai rumah sakit di Jogja dan ketersediaan oksigen di berbagai tempat. Hasilnya nihil. Semuanya mengatakan kondisi penuh dan habis. Bima mengabarkan kalau saturasi oksigennya naik turun. 


Oleh dosen saya, ia disarankan melakukan proning atau mengatur posisi tidur untuk meningkatkan kadar oksigen. Sementara itu, saya dan teman-temannya terus mencari informasi IGD dan oksigen. Saya tertidur dalam proses pencarian informasi itu. 

Nekat datang ke IGD

Kamis, 8 Juli, pukul 04.00

Sebuah pesan WhatsApp dari Bima yang menanyakan IGD masuk ke hape saya. Selain itu dia minta dicarikan oksigen. Saya mencoba menghubungi nomer telepon yang tertera di penyedia oksigen. Tidak ada yang mengangkat. Mungkin karena terlalu pagi. 

“Ada harapan?” tanyanya. 

“Aku masih cari oksigen. Belum dapet (emot nangis). Proning lagi ya, pelan-pelan, tarik nafas pelan-pelan,” saya memandunya melakukan proning

“Apa aku ke Sardjito,” kata Bima dalam pesannya. 

“Kuat? Banyak gak antrinya?” tanya saya balik.

“Gak tahu. Mau nemenin gak. Dua motor jauh-jauhan,” pintanya.

Saya menyanggupi ajakan Bima untuk datang ke IGD RSUP Dr. Sardjito meski belum tahu apakah tersedia bed atau tidak untuknya. Kami berangkat sekitar pukul 05.00. Dalam kondisi badan saya yang demam, saya bertemu dengannya. Udara pagi Jogja hari-hari ini begitu dingin. Saya keluar kos mengenakan jaket dan masker dobel.

Dalam perjalanan, saya sempat mampir ke apotek, mencoba mencari oksigen. Jaga-jaga seandainya oksigen di Jogja kosong seperti kabar berita beberapa hari sebelumnya. Ternyata di apotek, oksigen juga kosong.  

Sampai di rumah sakit, keberuntungan sepertinya menghampiri kami. Bima langsung mendapatkan bed di depan bangsal. Bima juga langsung ditangani, dapat oksigen, makan dan minum. Saya mengurus administrasi pendaftaran di poli Covid. Tanpa menunggu lama.

Saya saat itu terhubung dengan beberapa teman dan keluarga Bima melalui pesan WhatsApp. Habis itu saya melamun, nggak tahu mau gimana lagi. Bima sempat diambil darahnya, saya yang saat pendaftaran mengaku sebagai anggota keluarga berpikir nggak akan pulang dulu sampai hasil lab dari cek darah Bima keluar.

Sebab, kalau saya pulang, nggak mungkin bisa balik lagi karena harus isoman. Kalaupun hasil swab saya negatif, saya tetap akan isoman karena saat itu sudah terpaparnya parah, parah bangeeet. Masuk ke poli Covid tanpa menggunakan APD, hanya mengandalkan masker dobel dan jaket. 

Sekitar pukul 07.00, baterai hape saya mau habis. Akhirnya beberapa teman mengirimi saya sarapan dan charger. Sata cuma bisa share loc dan mengambil keperluan yang teman-teman saya berikan. Saya masuk lagi ke ruangan, belum ada kabar hasil lab, sementara Bima terlihat tertidur.

Saya melihat saturasi oksigennya, sudah normal. Saya memutuskan keluar dari ruangan Bima untuk sarapan kiriman dari teman-teman. Sekitar pukul 08.00, saya masuk lagi ke dalam ruangan Bima. Dia sudah bangun dan mengajak ngobrol banyak hal. 

Bima cerita, dia teringat almarhum ayahnya, dia merasa suasana rumah sakit saat itu mirip sekali ketika mengantar ayahnya ke RS, mulai dari posisi tempat tidur, kondisi tempatnya (di depan bangsal) di mana saat itu sang ayah berakhir wafat.  

Dia bilang sedih, kangen bapak. Saya masih berusaha untuk menyemangati dan bercerita soal ibunya yang baru saja telepon saya dengan menangis, minta tolong jagain Bima. 

Kata Bima, “Yaelah, namanya juga orang tua, kalau anaknya sakit ya nangis itu hal wajar,” katanya. Saya ambil foto dia habis itu buat dikirim ke keluarganya di Bekasi. 

Habis Bima bercerita, saya bilang kepadanya bahwa habis ini saya harus keluar untuk tes swab. Dan pasti akan sulit kembali lagi karena saya akan isoman. 

“Iya, gak papa kok, aku sendirian.”

Waktu itu pikiran saya, kalau Bima sendirian terus siapa yang mengurusinya? Sama siapa? Situasi saat itu sangat ramai. Saya sampai nangis sambil ngomong dalam hati. “Kok sampai separah ini ya.”

Saya melihat, jumlah perawat yang bertugas memang tidak sesuai dengan jumlah pasiennya. Saya bersyukur banget Bima ada di dalam ruangan dan langsung dapat penanganan. 

Saya nggak ngebayangin kalau Bima dapat di tenda, bukan di ruangan. Wah itu gila banget.

Pikiran saya saat itu masih chaos, berpikir nanti Bima sama siapa, apakah bisa dititipkan perawat. Gimana pun saya diharuskan untuk ke luar dari situ. Nggak bisa nunggu.

“Udah nanti dibantu perawatnya,” kata Bima.

Ada rasa optimistis, tapi nggak optimistis juga jika melihat kondisi di ruangan itu.

Di ruangan poli Covid itu, pasien-pasien sebagian besar ada yang nunggu. Tidak semua memang, hanya sebagian. Sementara menurut pengamatan saya, jumlah nakes tidak sebanding dengan jumlah pasien 

Sekitar pukul 09.00 saat saya mau pergi, Bima nitip beli minum dulu. Saya keluar membeli dua botol besar air mineral. Saya pikir, minuman itu akan menjadi cadangan saja karena pasti Bima akan mendapatkan minuman dari rumah sakit. Apalagi saat datang ke rumah sakit Bima juga langsung mendapat makanan dan minuman. Selain itu, Bima juga sudah membawa sendiri minumannya. Jadi pikir saya saat itu, pasti aman dong masalah minuman karena akan dikasih nakesnya. 

Saya akhirnya pulang dengan kondisi Bima yang sudah normal, saturasi sudah ideal dan sangat bisa ditinggalkan. Sampai saya pulang pagi itu, hasil lab belum keluar.

Keluar dari rumah sakit, saya langsung swab dan hasilnya positif Covid-19. Saya akhirnya memutuskan untuk isoman di salah satu shelter. Di situ saya terus berkomunikasi dengan Bima, hari pertama di rumah sakit keadaan Bima baik-baik saja.

Keluarga Bima menghubungi saya, saling sharing info. Ada tiga orang yang terlibat melakukan komunikasi secara intens dengan Bima, yakni saya, teman saya, dan dosen Bima yang terus berkontak dengan keluarga Bima yang ada di luar kota. 

Kami saling bertukar info karena Bima kalau balas chat kadang random. Mungkin karena sedang pusing sehingga Bima balas chat paling atas. Nah, sampai awal hari pertama, kondisi Bima aman, tidak ada kendala apa-apa. Dia merasa sudah lebih baik, seperti biasa.  

Kehabisan air dan tak mau makan

Jumat, 9 Juli 2021

Baca juga:  Saat Rakyat Banyak yang Mati, Ide Rumah Sakit Khusus Pejabat pada Masa Pandemi Itu Tepat Sekali

Hari kedua di rumah sakit, sekitar pukul 5 pagi, Bima memberi kabar melalui chat bahwa air minumnya mau habis. Ia nggak tahu posisi galon. Saat itu juga tidak ada perawat. Dia juga bilang kalau lapar. Saya tanya, kenapa nggak makan?

“Aku nggak doyan makan, ingin roti sobek,” kata Bima dalam pesannya.

Saya bilang, nanti ya sekitar jam 6 baru aku kirim, toko kayaknya udah pada buka kalau jam 6 pagi.

“Masih kuat kan?” kata saya. Bima mengiyakan. Ia setuju saya memesan makanan dan minuman dengan ojol dan mengantarkannya ke rumah sakit. Jam 6 saya berusaha untuk order minuman dan makanan untuk Bima. Setengah jam kemudian ojek online sudah sampai rumah sakit.

Skenarionya: ojol akan menitipkan minuman dan makanan ke satpam, kemudian oleh satpam dititipkan nakes, dari nakes akan disampaikan ke Bima. Tapi rencana itu buyar.

Satpam belum ada dan tenaga kesehatan yang ada sangat sibuk untuk dititipi makanan. Ojol juga tidak mau ambil risiko untuk masuk ke poli Covid. Akhirnya saya minta ojol itu untuk pergi saja, makanan yang saya pesan saya berikan untuk ojol tersebut.

Saya dan teman-teman bingung, gimana caranya mengantar makanan dan minuman untuk Bima.

Hari menjelang siang. Saya kembali mengirimkan ojol dengan makanan dan minuman. Abang ojol itu sampai rumah sakit pukul 09.45. Skenario masih sama dengan yang pertama. Kembali gagal.  

Shit… gak bisa lagi. Ada nakes nggak sih,” tanya saya.

“Nakesnya hilang, pada bertumbangan orang-orangnya. Grabnya nggak bisa nitip orang sembarang yang masuk?” kata Bima dengan emot sedih di pesannya.

“Ini lagi tak coba, nggak ada yang mau,” balas saya.

“Disuruh meninggal di sini kali gua. Udah nyerah,” kata Bima.

Mendengar pesan Bima, saya mulai panik. Ya Tuhan, mau ngirim makanan dan minuman saja susahnya minta ampun. Di RS sebenarnya ada air, tapi tidak semua pasien terkontrol dapat air banyak. Jadi memang harus ada yang nunggu pasien dengan risiko yang sangat tinggi akan terpapar.

Apa yang saya khawatirkan saat menemani Bima terjadi. Saya melihat jumlah nakes saat itu sangat sedikit jika dibandingkan jumlah pasien. Saya dan teman-teman mau nangis baca pesan dari Bima.

“Ada alarm gak sih. Buat keributan gih. Jatuhin oksigen,” pesan saya padanya. Logikanya, kalau Bima buat keributan akan menarik nakes untuk datang.

“Udah gak papa. Nakesnya juga gak mau. Barusan nanya. Sibuk katanya, suruh temen atau kerabat katanya,” kata Bima.

“Minta air sama nakesnya dulu gimana? :((“

“Eh ojolnya masih di situ,” tanya Bima.

“Udah mau pergi,” kata saya.

Bima kemudian berinisiatif memanggil seorang ibu yang menjaga pasien lain di ruangan itu. Ia meminta tolong untuk mengambilkan makanan yang ada di ojol. Ibu itu mau.

Ibu Peri sang penolong

Saya dan teman-teman rasanya lega banget, akhirnya Bima bisa makan dan minum. Memang, nakes itu tidak sampai memantau printilan-printilan seperti ngecek makanan dimakan atau tidak, ngurus ke kamar mandi, air minum habis atau tidak. Karena jumlahnya terbatas, perawat yang ada mengurus hal-hal yang sangat penting, misal oksigen, infus.

Karena itu kemudian memang penting pasien di poli Covid ada yang menemani. Tapi tidak semua pasien beruntung ada yang menemani.

Saya dan teman-teman masih bingung, kalau seperti itu ceritanya, Bima tidak akan mendapatkan suplai air yang cukup. Kami juga tidak mungkin seterusnya minta tolong ke orang dengan kondisi seperti itu. Apalagi saat itu, baterai hape Bima dalam kondisi limit. Power bank yang ia bawa juga sudah habis.

Akhirnya, salah satu dosen yang aktif berkomunikasi dengan saya dan Bima mendapatkan kontak seorang seorang pekerja di rumah sakit itu. Dapatnya juga sangat tak disengaja. Dosen saya ngobrol dengan ibu ini tentang kondisi Bima. Kami minta tolong kepada ibu itu, apakah mau jadi perantara berkirim makanan dan minuman ke Bima?

Ibu itu mau. Gila! Kami senang sekali mendengar ibu itu bersedia. Oh ya, kami menyebutnya Ibu Peri karena saking baiknya. Selama ada Ibu Peri, semua persoalan Bima tentang makanan, minuman, dan baterai hape teratasi. Bahkan ibu ini mengaku sebagai kerabat Bima. Ibu itu baik sekali, dia memberi Bima roti, air, madu, dan beberapa vitamin.

12 jam bersama jenazah 

Sabtu, 10 Juli 2021

Baca juga:  CFD Dipenuhi Pesepeda yang Tak Jaga Jarak, Citra Pesepeda Semakin Memburuk

Di hari Sabtu itu, Bima memberi informasi bahwa banyak pasien meninggal. Kata Bima, jenazah banyak banget. Nggak tahu kehabisan oksigen atau karena apa. Malam itu juga chaos banget karena Jogja diguyur hujan deras. Tenda darurat yang digunakan untuk pasien Covid-19 juga kebanjiran, seperti yang banyak beredar di media sosial . 

Dari data yang dikumpulkan oleh Posko Terpadu Penanganan Covid-19 DIY, hari Sabtu, 10 Juli, pukul 16.00, orang yang meninggal dunia di DIY sejumlah 37 orang. Sehari kemudian, Minggu, 11 Juli, yang meninggal bahkan sampai 50 orang. Saya yakin, sebagian besar di antaranya dari RS Sardjito.

Hari Sabtu itu kondisi Bima sebenarnya baik-baik saja, sampai kemudian pada pukul 21.00 kami dikabari oleh Ibu Peri lewat dosen saya bahwa kondisi Bima sempat drop. Saturasi oksigen mencapai 60. Itu pasti napasnya sesak sekali. Ibu Peri mengabarkan Bima harus masuk ICU. Ibu Peri juga yang antre untuk mendapatkan giliran masuk ICU. Tapi, ternyata yang antre ICU saat itu ada 18 orang.

Kami bingung, 18 orang itu akan selesai dalam berapa jam untuk kemudian giliran Bima ditangani. Sementara di situasi saat itu, kami, teman-teman Bima yang ada di luar, juga bingung harus bertindak apa. Kami juga nggak ada akses ke sana dalam situasi seperti itu. Yang bisa kami lakukan saat itu hanya bisa berdoa.

Sabtu jelang tengah malam, tepatnya pukul 23.30, saya chat Bima. Ya, walaupun saya tahu nggak akan dibalas olehnya. Tapi saya mencoba saja. Eh, dia balas. Katanya, kondisinya normal. Tapi ada yang membuat saya khawatir dengan kondisi mental Bima.

“Aman bozz?”

“Sebelah gue gak napas. Bingung,” tulisnya.

“Yang penting elo napas saja sih. Udah normal lagi kan? U normal lom?” kata saya. 

“Mati mah sebelah gue,” katanya.

“Astaga (emot nangis). U kuat kuatinnnnnnnnnn dah ah. Pasti kuattt. Jangan down ya mentalnya,” bunyi pesan yang saya kirimkan dengan hati nggak karuan.

“Barusan saturasi dicek 92,” katanya.

“Ah syukurlah,” balas saya.

Saya dan teman-teman masih saling chat dengan Bima sampai sekitar pukul 13.30 di hari Minggu. Menanyakan keadaannya dan kebutuhan apa saja yang diperlukan. Kabar gembira, Bima udah mulai mau makan, tapi saturasi naik-turun. Saat itu Bima masih menunggu antrean masuk ICU. Yang saya khawatirkan adalah mentalnya down karena ada jenazah di sampingnya.  

Di Minggu siang itu, saya mengirim pesan, dari kabar Ibu Peri, Bima sendirian di bangsal. Bersama jenazah di sampingnya. Jenazah yang sama ketika malam sebelumnya dia mengabari kalau pasien sebangsalnya tidak lagi bernapas.

“Kata Ibu Peri kamu sama jenazah sampai siang. Anjrit woyyy,” tulis saya.

“Iyees,” tulisnya singkat.

“Udah diambil kan tapi?” balas saya. Saya khawatir dengan kondisi jenazah di sampingnya membuat dia down. Pesan itu tidak berbalas. Saya kembali mengiriminya pesan.

Puku 16.09. “Better lom pak?” Pesan yang saya kirimkan itu tak berbalas.

Pukul 16.30, dosen saya dikabari oleh Ibu Peri bahwa kondisi Bima kritis. Sempat henti napas, namun setelah ditangani oleh nakes, napasnya kembali. Saya kembali berkirim pesan padanya.

Pukul 16.46. “Kuat yok bisa yooook!!”

Pukul 16.46. “Bisaaaaaaa.”

Pukul 18.10 saya mendapat kabar Bima telah meninggal dunia. Perkiraannya dia meninggal pukul 17.00.

Teman Bima menaburkan bunga di makamnya. Dok. Istimewa
Teman Bima menaburkan bunga di makamnya. Sumber: arsip pribadi.

Pemerintah harusnya lebih tanggap

Sehari kemudian, 50 orang pasien Covid-19 di DIY tercatat meninggal. Bima ada di salah satunya.

Saya berpikir, kondisi ini tidak akan terjadi jika pemerintah lebih tanggap. Jika fasilitas kesehatan memadai, jumlah nakes dan tempat-tempat penting untuk pasien Covid-19 itu mencukupi, tidak akan terjadi apa yang dialami Bima. 

Saya sedih karena tidak bisa menemani Bima saat sakaratul maut. Saya muslim, dan dalam kepercayaan saya, orang yang sedang sakratul maut sebaiknya ditemenin. Saya sangat menyesal tidak ada di samping Bima saat dia meninggal. Saya sempat menyalahkan diri sendiri, apakah saya bukan teman yang baik karena tidak ada ketika Bima meninggal? Tapi saya menyadari, ada banyak orang-orang yang mungkin tidak seberuntung Bima. 

Yang dialami Bima mungkin lebih baik karena dia mendapatkan bed. Saya dengar, banyak juga yang meninggal dunia dalam kondisi isoman sendirian.

Saya yakin, rumah sakit dan para tenaga kesehatan yang sudah bekerja keras juga jadi korban dari kebijakan pemerintah yang kurang tanggap. Bayangkan saja, ada 18 orang yang antre ICU. Itu mungkin tidak akan terjadi jika fasilitas kesehatan memadai. Mungkin Bima masih bisa nego dengan takdir jika kapasitas ICU terpenuhi. Mungkin ia nggak akan pergi secepat ini.

Ada 10 jenazah yang bersama jasad Bima menunggu antrean untuk dibawa ke ruang forensik hari itu. Katanya, setengah petugas forensik yang bekerja terpapar Covid-19 sehingga tidak bisa bekerja. Harus ada campur tangan dari pemerintah. Menyediakan fasilitas yang jauh lebih banyak. Belum lagi permasalahan ambulans dan pemakaman yang mesti juga antre, petugasnya banyak juga yang terpapar virus ini.

Oh ya, di Jogja, saya kecewa dengan Ngarsa Dalem yang bilang nggak ada uang. Danais itu sangat banyak, kenapa nggak diprioritaskan dalam kondisi saat ini di mana tingkatnya sedang parah? Sebagai rumah sakit rujukan dan fasilitas lengkap saja, RSUP Dr. Sardjito kewalahan. Bagaimana dengan rumah sakit-rumah sakit lain? Masyarakat yang saling bantu dan gotong royong itu sangat bagus, tapi pemerintah harus campur tangan juga. Bukannya malah minta dibuatin rumah sakit Covid-19 khusus pejabat, misalnya. 

Bima itu anaknya sangat fun, sangat tulus, ceria. Banyak yang diajarkan Bima ke saya. Dalam satu bulan ini, kami intens ketemu untuk mengerjakan tesis. Dia sangat pintar, bahasa Inggrisnya bagus, logikanya jalan. Ia sangat perhatian kepada teman-temannya. Bahkan ketika saya tanya hal-hal pribadi, semisal saya sedang naksir cowok, Bima bisa memberi saran dan membaca karakter cowok yang saya taksir.

Di kelas, Bima ceria sekali dan suka menghidupkan suasana yang menyenangkan. Dia tipe orang yang tidak mau merepotkan teman-temannya. Gila lah kalau ngomongin Bima, kayaknya nggak ada jeleknya dia.

*Kisah ini ditulis seperti yang diungkapkan Dewi, bukan nama sebenarnya, kepada Mojok.co. Nama narasumber kami samarkan untuk menjaga privasi.

BACA JUGA Cerita Sopir Ambulan yang Hampir Disabet Celurit Saat Mengantar Jenazah Pasien Covid-19 dan liputan JOGJA BAWAH TANAH lainnya.