Mengumpulkan Keberanian Menikah Meski Gaji Cuma UMR

MOJOK.COSecara usia sudah cukup matang, sedangkan gaji masih UMR. Dengan kondisi ini, bagaimana mengumpulkan keberanian ngajak pacar untuk menikah?

Pernikahan adalah salah satu hal yang didambakan bagi mereka yang sudah cukup matang baik dalam segi usia maupun finansial. Terutama untuk mereka yang telah menjalin hubungan asmara alias pacaran yang langgengnya udah kayak kredit rumah.

Bicara soal umur, bagaimanapun juga ia tidak akan pernah mundur. Jadi siapa pun pasti akan sampai pada usia yang disebut matang. Namun, soal kematangan finansial, rasa-rasanya tidak setiap orang beruntung mampu mencapainya.

Lantas bagaimana? Apakah pernikahan memang harus ditunda sampai kedua faktor tersebut terpenuhi? Namun, bukankah usia akan terus bertambah?


“Keburu tua!” kata seorang teman.

Beberapa waktu yang lalu, lini masa Twitter sempat diramaikan dengan pernikahan super mahal ala fulan bin fulan. Bahkan untuk suvenirnya saja, ada emas 3 dan 5 gram. Saya ngiri? Oh, saya cukup sadar kok, untuk nggak ngiri dengan pesta pernikahan fenomenal tersebut. Jangankan iri, untuk membayangkannya saja, saya sudah tidak mampu. Maklum, sebagai pekerja di salah satu perusahaan milik swasta, saya cuma digaji UMR.

Sedangkan si upah minimum regional di Semarang pada 2018 ini sejumlah Rp2,3 juta. Gaji segitu, belum kepotong dengan biaya hidup, biaya indekos, bensin, pulsa, dll.

Jadi, kalau dihitung dengan hitungan kasar, ternyata setiap bulannya saya hanya mampu menabung sekitar Rp345 ribu saja. Itu pun sudah dengan gaya hidup yang amat sangat ngirit. Nggak percaya? Begini rincihannya:

Baca juga:  Karena Tanya “Kapan Punya Anak?” Lebih Berbahaya daripada Tanya "Kapan Nikah?"

1. Biaya kos, saya ambil harga umum dengan kamar mandi luar, sebesar Rp450 ribu per bulan.

2. Biaya makan, Rp12 ribu sekali makan. Perkiraan harga ini dengan lauk rames+telur tanpa daging. Jadi, kalau dalam sehari saya makan tiga kali. Maka per hari saya mengeluarkan Rp36 ribu untuk makan. Maka sebulan sebesar Rp1.080.000.

3. Untuk bensin saya mengisinya seminggu sekali dengan biaya Rp20 ribu. Bensin tersebut hanya untuk pulang-pergi kantor saja. Sehingga sebulan jika dianggap ada 5 minggu, maka menghabiskan biaya sebesar Rp100ribu.

4. Kuota internet biasanya Rp100 ribu per bulan. Dengan menggunakan paketan yang paling ngirit dan ada paket malamnya. Pasalnya, ini penting supaya saya tetep bisa nonton Black Pink di Youtube. Atau kalau bosan dengan jogetan ala Korea, saya masih bisa nonton Via Vallen yang sama-sama joget dalam iklan Shopee—walau yang satu nggak kena petisi. Eh, atau malah nonton Nella Kharisma, yang kata Vianisty garis keras sih, mereka nggak bakal nonton Nella nyanyi.

5. Pengeluaran saya selanjutnya adalah rokok. Iya, iya. Saya memang seorang perokok satu bungkus yang bisa bertahan sampai dua hari. Jadi, kalau harga rokok satu bungkus Rp15 ribu, maka sebulan kurang lebih sebesar Rp225 ribu.

Pengeluaran saya dalam sebulan tersebut jika ditotal sebesar Rp1.955.000. Maka gaji saya dalam sebulan hanya dapat tersisa Rp345 ribu saja. Dengan catatan tanpa jalan-jalan kemana pun. Jadi, jika si doi pengin ngajak jalan, ya paling di akhir bulan untuk makan, saya bakal ngandelin mie instan.

Baca juga:  Emak-Emak Sang Raja Jalanan

Pertanyaannya, lantas dengan sisa penghasilan yang sangat minim itu, di umur berapa saya bakal mencapai sebuah kemapanan finansial?

Kok rasa-rasanya, sampai ubanan pun juga nggak ada yang berani menjamin bahwa kemapanan tersebut dapat digapai. Eits, bukan bermaksud mendahului Tuhan, kok. Saya ini cuma mencoba untuk berpikir realistis saja.

Tapi beruntunglah saat ini, masih banyak wanita yang rela bekerja membantu keuangan suami. Istilahnya, suami istri sama-sama bekerja. Tapi dengan keduanya bekerja nanti urusan mendidik anak, bagaimana dong? Masak ya kita bakal ngerepotin orang tua kita lagi untuk ngurusin anak kita? Padahal kan, mereka sudah capek ngurusin kita.

Masalah kemapanan finansial ini, bisa direspon berbeda pada setiap orang. Jika saya masuk dalam kelompok galau yang takut menikah. Maka ada pula kelompok galau yang justru nekat untuk menikah.

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman yang dalam ketidakmapanan ini. Ternyata, istrinya sudah mengandung anaknya yang kedua. Ia bahkan sudah tiga kali berganti pekerjaan. Tapi Alhamdulillah, keluarga mereka nampak bahagia. Dengan anak pertama yang dititipkan ke orang tua, mereka bisa sama-sama bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.


Mereka ini cukup beruntung. Pasalnya masih mendapatkan support dari orang tuanya masing-masing. Bahkan sekarang mereka sudah dibangunkan rumah yang cukup bagus. Ia juga sering mendorong saya untuk segera menikah, sebab urusan rezeki InsyaAllah nanti akan dipermudah oleh Allah. “Jangan lama-lama pacaran, Mas. Nanti malah nambah dosa,” tambahnya.

Baca juga:  Gagal Nikah ala Orang Batak

Sesudah mendapat suntikan semangat dari teman saya ini. Kemudian saya memberanikan diri untuk mengajak pacar saya menikah tahun depan. Tapi rupanya, pacar saya justru tidak terlalu senang dengan ajakan saya itu. Alih-alih raut wajah bahagia ketika dilamar kekasih hati seperti yang terjadi di sinetron atau drama FTV, ia malah mencoba mengalihkan pembicaraan.

Setelah terjadi tarik ulur pembicaraan, ia menatap saya sambil tersedu. Ia bertanya, bagaimana nanti kehidupan kami dengan gaji yang masih UMR? Di mana kami bakal tinggal? Serta bagaimana dengan urusan mengasuh anak?

Saya akui, sebagai perempuan ia cukup logis dan realistis. Mungkin karena Mbakyu-nya mengalami perceraian karena faktor ekonomi. Sedangkan saya selalu beragumentasi tentang usia saya yang hampir menginjak kepala tiga. Pendek cerita, perdebatan kami selalu berputar-putar di situ saja. Ia belum siap, dan saya belum punya persiapan untuk menjawab semua pertanyaan itu.

Akibat perdebatan itu, kami tidak saling berkomunikasi kurang lebih satu minggu. Namun dalam waktu itu, saya gunakan untuk cara mendapatkan penghasilan tambahan. Lantas saya kepikiran pada website Mojok, yang selalu saya baca namun saya belum pernah mencoba menjadi kontributornya. Singkat cerita, saya beranikan diri untuk menulis. Siapa tahu, honorariumnya bisa ditabung jika tulisan saya dimuat.