Fried Chicken Cak Yunus, Kaki Lima tapi Istimewa
Fried Chicken Cak Yunus, Kaki Lima tapi Istimewa

Fried Chicken Cak Yunus Memang Kaki Lima, tapi Istimewa

Warung Fried Chicken Cak Yunus tidak menawarkan tempat yang luas, nyaman, dan membuat Anda betah berlama-lama di sana. Namun soal rasa, banyak orang yang rela berulang kali datang untuk menikmatinya. Meski cuma kaki lima, warung ini disebut-sebut netizen sebagai salah satu yang menduduki kasta atas kancah ayam goreng tepung di Yogya. Istimewanya, warung ini tidak mau buka cabang.

Menu ayam di sini terbilang cukup khas. Potongan ayam bagian sayap, paha bawah, paha atas, dan dada berbalut tepung yang gurih ini disajikan bersama sambal tomat khas pedas manis dan beberapa potong lalapan. Sajian menu ini jadi andalan banyak warga Yogya, terutama di siang dan sore hari.

Ramainya Fried Chicken Cak Yunus membuat saya harus menunda beberapa kali niat untuk wawancara. Setiap lewat nampak penuh. Semua pegawainya sibuk melayani pembeli yang mengantre. Niat untuk mampir pun saya urungkan berkali-kali.

Akhirnya pada Minggu (13/06/2021), meski bangun agak kesiangan, saya bulatkan tekad untuk mendatangi warung bertenda biru yang terletak di samping halte Trans Jogja depan Museum Biologi Jalan Sultan Agung ini. Sial, sesampainya di sana jam 10 pagi, kondisi sudah ramai. Pagi itu, dua potong dada ayam saya habiskan, namun informasi belum saya dapatkan.


Pukul tujuh malam saya coba kembali, namun sayang, kondisinya bahkan lebih ramai dari pagi tadi. Saya putuskan ngangkring dulu beberapa puluh meter di barat lokasi. Sejam kemudian saya kembali, syukurlah sudah sepi, tapi ayamnya sudah habis.  Tinggal dua karyawan tersisa sedang membereskan berbagai hal.

Barulah keesokan malam harinya saya menjumpai Indah Wahyuni (41), anak pertama dari perintis warung makan yang kerap dilabeli fried chicken “Jowo” ini. Setelah sebelumnya berhasil saya hubungi berkat nomor WhatsApp yang diberikan oleh seorang pegawainya.

“Mohon maaf ya Mas, Bapak sedang sakit jadi ndak bisa menemui,” katanya. Mendengar itu, saya berujar semoga Pak Yunus lekas sembuh. Seketika Indah menyanggah, bahwa nama sang perintis warung ini bukanlah Yunus.

“Yunus nama adik saya, anak ketiga Bapak. Sedangkan Bapak saya namanya Abdul Azis,” katanya perempuan yang sekarang mengelola segala urusan belanja dan produksi di warung ini.

Singkat cerita, saat Abdul Azis (64) dan istrinya merintis usaha ini pada tahun 1999, sebenarnya Yunus masih berusia enam tahun. Namun bocah kecil itulah yang menginspirasi kehadiran usaha kuliner ayam ini. Yunus kecil kala itu sering sakit-sakitan dan tak memiliki nafsu makan. Makanan yang mau ia makan cuma ayam goreng, lebih spesifiknya lagi bagian kulit ayam goreng.

Awalnya kedua orang tuanya kerap membelikan kulit di penjual ayam goreng dekat rumahnya di sekitar Jalan Tamansiswa. Namun lama-lama, sang penjual kerap tidak menjual bagian kulit. Dan berakhir kena gusur karena lokasi lapaknya digunakan untuk pembangunan.

Akhirnya ide sederhana untuk meracik ayam goreng sendiri muncul. Insting bisnis yang dimiliki keluarga perantau dari Gresik ini membuat urusan makan anak berubah jadi ladang rezeki.

Meme yang menunjukan Fried Chicken Cak Yunus punya posisi istimewa bagi penggemar ayam di Yogyakarta 

 Semua bermula dari kegagalan

Suara bising kendaraan terdengar kencang di sela pembicaraan saya dan Indah. Maklum, warungnya persis di pinggir jalan ramai. Mata Indah nampak sayu, kulitnya terlihat kusam setelah melayani pembeli seharian, namun ia tetap melanjutkan cerita dengan antusias.

Sebelum mendapat ide untuk membuka warung fried chicken, kedua orang tua Indah sudah bergelut di usaha kuliner. Melalui sebuah warung ramesan kecil, Abdul Azis dan istrinya berusaha menjaga asa di tanah rantau. “Ibu saya bilang gak mau pulang ke Gresik kalau belum bisa menunjukkan hasil di perantauan,” kata Indah mengenang momen perjuangan orang tuanya saat ia masih muda.

Baca juga:  Ibu, Tempe dan Skripsi yang Tak Selesai 

Keluarga ini datang ke Yogya pada awal 90-an, berbekal optimisme untuk melanjutkan dan membesarkan usaha kerajinan tas yang sebelumnya sudah dirintis di tanah kelahiran. “Jadi bapak saya dulu pengrajin tas, yang buat acara-acara seminar dan kondangan itu. Selain itu juga dikirimin ke Malioboro,” tambah ibu tiga anak ini.

Namun usaha memang tak selalu berjalan semestinya, harapan melalui bisnis tas yang dibawa dari Gresik ke Yogya ternyata tak bertahan lama. Tak sampai lima tahun, Abdul Azis dan keluarganya harus merasakan bangkrut di tanah rantau. “Bapak banyak kena tipu orang Mas,” tambahnya.

Banyak orang yang bingung nama sebenarnya dari warung ini. Sebab ada dua nama yang terpampang, yakni Lesehan Biru dan Fried Chicken Cak Yunus. Menurut Indah dua-duanya tidak salah, bebas mau disebut apa oleh pembeli.

“Dulu itu lapak ini digunakan orang lain dengan nama Lesbi (Lesehan Biru), orang sudah banyak kenal lokasi ini dengan sebutan tersebut. Tapi oleh Bapak, biar konotasinya tidak aneh-aneh dijabarkan jadi Lesehan Biru saja tanpa disingkat, lalu ditambahin Cak Yunus,” paparnya.


Perbincangan kami sering tersela oleh pembeli yang datang, padahal sudah jelas terpampang tulisan “Habis” di etalase tempat biasanya ayam-ayam menggoda hasrat makan terpajang. Hari ini warung ini tutup cepat, sebab kehabisan stok sejak sore.

Sebenarnya warung ini mendaku diri buka 24 jam dalam sehari. Dengan catatan, kalau stok ayamnya belum habis. Namun sayangnya hampir setiap hari tak pernah ada sisa sebelum jam delapan malam.

“Dulu sebelum pandemi sampai malam habis saja kita masih goreng lagi, benar-benar buka 24 jam. Tapi setelah itu, karena kewalahan, akhirnya kalau sore menjelang malam ayam sudah habis, yasudah,” ungkapnya sambil membenarkan letak kacamata.

Setiap harinya, 100 kilogram ayam pasti habis terjual di sini. Sambalnya tomatnya saja butuh enam kilogram dalam sehari, bahkan sering masih kurang. Kalau menuruti permintaan pembeli, sebenarnya Indah mengaku 100 kilogram tak cukup. Buktinya jelas terlihat dari banyaknya pembeli yang masih berharap ada ayam tersisa di malam hari.

Dulu tempat ini masih menerima pesanan skala besar, bahkan tak jarang Abdul Azis mengantarkan pesanan puluhan kilometer sampai ke Magelang. Sekarang pesanan untuk berbagai acara seperti hajatan memang masih berdatangan, tapi tak semuanya diterima. Lagi-lagi karena kewalahan dan keterbatasan tenaga. Untuk melayani banyaknya pelanggan, hanya ada sembilan karyawan ditambah beberapa anggota keluarga Abdul Azis yang setiap harinya turun mengurus berbagai keperluan.

Tidak mau “lagi” buka cabang

Meski dengan banyaknya permintaan dari pelanggan, Fried Chicken Cak Yunus kini tak memiliki cabang di manapun. Indah juga mengatakan bahwa belum ada rencana untuk pindah ke tempat yang lebih luas, agar bisa menampung lebih banyak orang. Sebab kalau ditaksir, tempat yang ada sekarang mungkin hanya cukup untuk sepuluh pelanggan sekali makan. Itu pun agak berdesakan.

Keramaian warung di siang hari. Foto oleh Hammam/Mojok.co
Keramaian warung di siang hari. Foto oleh Hammam/Mojok.co

Sebenarnya, percobaan untuk buka cabang sudah dilakukan dua kali. Tapi ternyata tak semulus yang dibayangkan. Sebab banyak pelanggan yang mengeluh bahwa rasanya berbeda dengan yang ada di warung utamanya.

“Bapak dulu sampai bingung kenapa kok pada bilang rasanya beda, padahal meraciknya di tempat yang sama di sini. Hanya proses gorengnya yang dilakukan di cabang. Pernah juga coba meraciknya di cabang, tapi juga pada datengnya tetap ke sini,” jelasnya heran.

Bahkan Indah pun pernah membuka usaha serupa dengan racikan yang sama di daerah Bantul, namun sepi, pelanggan tetap datangnya ke Jalan Sultan Agung. “Mungkin sudah sugesti pelanggan ya Mas, kalau yang enak di sini,” tambahnya.

Baca juga:  Lagu Patah Hati dan Piknik di Kuburan: Sebuah Curhatan Wong Klaten yang Tinggal di Amerika

Dengan kondisi itu, akhirnya keluarga Abdul Azis tak ada niatan lagi untuk melebarkan bisnis. Mereka mensyukuri apa yang ada saat ini. Beberapa tawaran untuk kerja sama sejenis waralaba pun belum diterima. Keluarga ini nampak sudah berkecukupan serta penuh syukur dengan warung satu ini.

Jangankan membuka cabang atau kerja sama, warung ini juga tidak memanfaatkan aplikasi-aplikasi ojek online yang bisa menambah jumlah pemesan. Padahal beberapa meter di samping lapak ini juga ada penjual-penjual berbagai olahan ayam serupa yang lebih modern dan memanfaatkan berbagai layanan teknologi.

Pernah juga ada mantan pegawai di tempatnya yang kemudian membuat warung makan dengan menu serupa. Namun Indah dan keluarganya tak pernah ambil pusing. Rezeki sudah ada yang mengatur, katanya. “Kami malah berhubungan baik,” tegasnya.

Indah yakin, asal tetap menjaga kualitas dan mengedepankan prinsip murah tur enak, pelanggan tetap datang kemari. Komitmen untuk menjaga standar kualitas sepanjang lebih dari dua puluh tahun dibuktikan dengan tetap menggunakan pemasok ayam yang sama. Sejak yang pemasoknya orang tua, hingga pindah generasi ke anaknya. Bahkan Indah berujar kalau pemasok yang satu ini sedang libur, lebih baik warung ini ikut libur.

“Kami sudah kapok Mas, dulu pernah pas pemasoknya libur karena Lebaran, kita coba ambil dari yang lain, tapi potongannya beda, bahkan ayamnya dicampur sama yang kualitasnya tidak sesuai dengan permintaan kami,” tegasnya.

Untuk urusan ayam, Cak Yunus selalu menggunakan ayam yang masih muda. Agar rasanya lebih segar dan dagingnya empuk. Selain itu untuk sambal juga menggunakan tomat dengan kualitas yang bagus. Tomat yang biasanya untuk membuat jus. “Sering juga orang pasar datang kemari, menawarkan tomat dan cabe yang lebih murah. Tapi ndak dulu,” tandasnya.

Soal rasa, ayam di tempat Cak Yunus memang segar dan juicy, yang dijual hari itu merupakan hasil potongan hari itu juga. Tak pernah sampai masuk ke mesin pendingin, sebab apa yang hendak dimasukkan? Wong setiap hari pasti ludes terjual.

Dengan segala standar yang diterapkan di warungnya, Indah berujar bahwa bapaknya sangat hati-hati untuk menaikkan harga. Awal berdiri berbagai paket nasi ayam di sini dijual kisaran Rp 5 ribu, sekarang berada di angka Rp 9 ribu hingga Rp 11 ribu.

Selain itu, dulu warung ini juga menyediakan menu nasi rawon. Namun saya tak sempat mencicipi menu alternatif yang satu ini, sebab sudah keburu ditiadakan oleh pemiliknya sejak beberapa waktu lalu. Alasannya karena proses pembuatannya cukup ribet, banyak bumbu yang harus dipersiapkan. Sedangkan peminatnya tak sebanyak olahan ayam.

Dibuat untuk kalangan mahasiswa

Salah satu alasan Cak Yunus menjaga harganya terjangkau adalah agar tetap bisa dinikmati mahasiswa. Sebab, kisah awal mereka membuka lapak di sini juga karena ingin menjangkau pembeli dari kalangan tersebut. Tak jauh dari warung itu berada memang terdapat beberapa asrama mahasiswa, mulai dari Asrama Mahasiswa Sulawesi Selatan hingga Asrama Mahasiswa Kalimantan Barat.

Indah sering menemui pelanggan yang dulunya masih mahasiswa, lalu kembali lagi setelah anaknya sudah besar-besar. “Sering ada yang datang, sudah jadi PNS, sudah punya anak, lalu cerita kalau dulu pas jadi mahasiswa sering makan ke sini,” kenangnya.

Indah, anak pertama dari pendiri warung Cak Yunus. Foto oleh Hammam/Mojok.co
Indah, anak pertama dari pendiri warung Cak Yunus. Foto oleh Hammam/Mojok.co

Tak ada strategi khusus yang diterapkan selama menjalankan bisnis kuliner ini. Indah terdiam sejenak dan melihat ke atap seperti berpikir dalam saat saya tanyai perihal tips-tips bisnis orang tuanya. Ia kemudian berujar, “Ya kalau pesan Bapak tu harus enak dan tetap terjangkau saja, agar bisa dinikmati kalangan luas.”

Baca juga:  Pak Ogah, Mengakali Hidup Terbatas dengan Mengatur Lalu Lintas

Jangkan strategi-strategi yang rumit, promosi sederhana saja hampir tidak pernah. Warung ini tak punya akun-akun sosial media untuk mengenalkan menu-menunya. Indah menunjukkan akun Instagram pribadinya, lalu bercerita bahwa baru punya Instagram saja belum lama.

Semuanya berjalan tanpa secara organik saja. Promosi justru dilakukan oleh orang-orang yang datang untuk menikmati sepotong ayam di sini. Sejak beberapa tahun lalu, warung ini juga rutin dikunjungi banyak food vlogger yang ingin menceritakan pengalaman makan ayam racikan Abdul Azis.

Indah sampai sering ditanyai berapa ongkos yang harus ia keluarkan agar bisa didatangi para Youtuber itu. Padahal ia juga sering tidak tahu kalau ada food vlogger yang berkunjung. “Ya mereka datang aja, makan seperti pelanggan yang lain, terus seperti merekam video, tiba-tiba besoknya saya dikabari saudara kalau masuk di salah satu channel Youtube terkenal,” katanya.

Saya kemudian menunjukkan meme yang dibuat oleh pengguna Twitter yang meletakkan Cak Yunus di posisi atas kasta fried chicken di Jogja. Ia tertawa, lalu berkata kalau pernah mendapat kiriman foto itu di WhatsApp.

Raut wajar sumringah tak bisa disembunyikan dari wajahnya saat saya menceritakan beberapa komentar lucu netizen tentang warungnya. Misalnya tentang orang-orang yang nonkrong di McDonalds (McD) Sultan Agung tapi beli ayamnya di Warung Cak Yunus.

Perihal itu, saya juga berhasil menghubungi seorang penikmat ayam Cak Yunus bernama Dziki Fahmil Hasani (21), yang punya cerita lucu tentang hubungan Cak Yunus dengan McD. Suatu hari ia datang untuk membeli ayam di Cak Yunus, namun ia kehabisan nasi. Akhirnya ia beli nasi di McD dan memakannya di warung bertenda biru itu.

“Sebenarnya harga nasi di McD itu hampir setara sepotong ayam di Cak Yunus, tapi gimana lagi ya,kata pemuda yang mengaku sudah mulai mengenal Cak Yunus sejak 2018 ini.

Meski tempatnya sempit, Dziki mengaku tetap bisa menikmati makanan di Fried Chicken Cak Yunus. Warung yang sempit itu membuatnya bisa menyantap makanan lebih cepat dan kembali melanjutkan aktivitas. “Biar bisa gentian sama yang lain,” tambahnya.

Hal yang disukai Dziki dari ayam di Cak Yunus adalah bumbunya yang meresap sampai dalam daging. Ditambah sambalnya yang agak manis tapi berminyak gimana gitu.

Indah juga mengakui, kalau sering menemui orang-orang yang mampir ke warungnya setelah sebelumnya dari McD. “Kadang ada itu Mas, orang tua yang ke McD karena anaknya pengen es krim, atau beli makanan yang ada hadiah mainannya, terus mampir makannya ke sini,” katanya sambil tertawa.

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat, meski banyak tertawa sepanjang obrolan, raut lelah semakin nampak di wajah Indah. Ia mengaku sudah mulai mempersiapkan berbagai keperluan untuk warung ini sejak jam tiga pagi setiap hari.

Di sudut warung, seorang pegawai perempuan nampak sedang mempersiapkan dua loyang besar untuk keesokan hari. Melihat sambalnya saja sudah membuat rasa lapar saya sudah tak bisa ditahan lagi.

Sebenarnya, saya sudah datang setengah jam sebelum janji temu kami pukul delapan malam. Dengan harapan masih bisa memesan seporsi nasi paha atas untuk makan malam. Namun hari itu saya kurang beruntung, sebagaimana banyak orang yang datang saat saya asyik berbincang dengan Indah.

BACA JUGA Jogja di Sepotong Sayap Olive Chicken dan liputan menarik lainnya di rubrik SUSUL.